Surat Terbuka Untuk Calon Imam Masa Depan

surat ini kutujukan untukmu wahai calonku..
Di masa lalu, aku bisa jatuh cinta dan mencintai dengan mudah tanpa memikirkan apapun. Namun sekarang, yang terjadi adalah aku takut jatuh hati dan takut terluka.

Saat hatiku memiliki sebuah nama yang bernaung di sana, saat itulah ketakutan akan terluka menjelma. Tentu saja ini tak adil. Mengapa sekarang aku membatasi rasa yang seharusnya mengalir begitu saja? Tanpa diduga orang itu adalah dirimu.

Saya serta dirimu sudah mengambil langkah jauh dari masa kemarin. Saya serta dirimu sudah banyak tahu apakah itu makna satu luka.

Untuk kita yang saat ini berjumpa dimasa depan dapatkah saya titip hatiku kepadamu? Jagalah dengan sepenuh hati, jadi saya juga akan lakukan hal yang sama terhadapmu. Tidak gampang memanglah untuk betul-betul sepenuh hati menyukai seorang saat masih tetap ada rasa takut terluka. Serta saya masih tetap belum juga dapat meyakini apa yang anda rasa terhadapku.

Buat aku yang sempat terluka memanglah susah meyakini bila rasa yang kau rasakan yaitu cinta, walau kau juga tidak tau persis apakah itu rasa cinta yang tengah naik-turun di hatimu. Sesungguhnya saya sangat membatasi hati karna cuma sangat takut.

Saya yang saat ini tidak dapat bermurah hati buka hati.

Saya seringkali menghela nafas waktu menentramkan hatiku supaya saya yakin kalau memanglah tak ada cinta yang prima. Mengenai satu menginginkan di masa depan, dapatkah kita jadi peranan yang hebat hadapi banyak halangan nanti?

Mengenai sehari kelak yang juga akan jadi saksi kebersamaan diawali pada saya serta dirimu. Lantas lalu sehari yang selalu berlanjut jadi minggu, bln., th. dan sebagainya. Terselip di sana dapatkah kita bertahan walau badai tidak henti menimpa? Untuk wujudkan mimpi dengan. Dalam tiap-tiap memecahkan problem bisakah kita senantiasa berkompromi untuk kebaikan masa depan kita berdua? Ini tidak gampang. Kita keduanya sama ketahuinya.

Waktu kau pada akhirnya penuhi fikiranku tanpa ada permisi. Lalu satu rasa keluar tanpa ada kesepakatan.

Lagi-lagi saya menghela nafas menentramkan hatiku, mungkin saja ada yang salah. Sambil pejamkan mata fikiranku berkata, mana yang sangkanya baik? Benar. Saya tidak perduli mengenai masa lalumu. Lantas walau bagaimanapun, saya juga tidak mungkin saja selalu tutup mataku kalau kau mesti berhenti dari rutinitas burukmu di masa kemarin. Tidak dapatkah cukup hanya saya menyayangimu, kau berhenti dengan dunia masa lalumu? Dapatkah kau jadi bapak yang baik untuk anak-anak kita nantinya?

Bila kau ajukan pertanyaan apakah saya siap hidup denganmu yang tidak memiliki apa-apa, saya juga tidak paham jawabannya. Yang saya kehendaki sesungguhnya yaitu mitra perjuangan. Mengenai melakukan kehidupan di masa depan yang juga akan tawarkan banyak halangan, paling tidak dapatkah kita sama-sama memperkuat untuk tetaplah bertahan sesulit apa pun itu?

Serta tetaplah bertahan walau tidak berniat saat sama-sama tidak sesuai harapan. Karna sebenarnya niatku menginginkanmu jadi imam untukku serta anak-anak kita nanti. Tidakkah itu mimpi yang sangat jauh untuk kita, yang tetap dalam kebimbangan perasaan? Lalu… jumpai saya serta katakan jalan mana yang juga akan kita lewati dengan.