Terpilihnya Jack Ma Sebagai Penasehat Membuat DPR Keberatan

Saat bos Alibaba Jack Ma didapuk jadi penasihat steering committee pengaturan roadmap e-commerce di Indonesia, beberapa kritikan keluar. Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) memajukan keberatan jika Jack Ma jadi penasihat e-commerce Indonesia dalam periode waktu lama.

Anggota Komisi I DPR asal fraksi Golkar Meutya Hafid menyebutkan kalau penasihat e-commerce baiknya datang dari dalam negeri. Menurut dia, banyak anak bangsa, pebisnis ekonomi digital yang punya potensi jadi penasihat.

DPR cemas, bergabungnya Jack Ma juga akan memengaruhi beberapa kebijakan ekonomi, terlebih masalah investasi di bidang e-commerce.

Terpilihnya Jack Ma Sebagai Penasehat Membuat DPR Keberatan

” Kami menangkap, bergabungnya Jack Ma ini juga akan menyebabkan conflict of interest. Terlebih bisnisnya di Indonesia cukup banyak, ” jelas Meutya

Menurut dia, pebisnis e-commerce dari dalam negeri dapat juga dihandalkan jadi penasihat. Sebut saja seperti pendiri Tokopedia, Bukalapak, dsb. Jikalau pemerintah menginginkan menggandeng pakar e-commerce dari luar negeri, dapat dari pihak yang lebih netral serta bukanlah aktor paling utama usaha e-commerce yang semakin nyaman karna adanya cek resi untuk konsumen.

” Jikalau mesti ambil pakar luar negeri, tak perlu yang miliki usaha besar disini. Umpamanya dari Silicon Valley di Amerika, yang bukanlah aktor paling utama. Karna Jack Ma cukup gencar ekspansi usaha disini, kepemilikan bisnisnya disini hingga 80%, ” jelas Meutya.

Tidak cuma Jack Ma, pendiri serta CEO Amazon, Jeff Bezos, juga disebut-sebut juga akan ikut gabung jadi tim penasihat roadmap e-commerce di tanah air.

Menyikapi hal itu, Meutya kembali merekomendasikan Kominfo untuk hindari ikut sertanya pebisnis besar dari luar negeri. Beberapa bos e-commerce asal luar negeri itu semakin lebih cocok bila didatangkan jadi narasumber dalam beberapa acara spesifik.

“Silahkan ingin sebanyak mungkin belajar dari mereka, tapi janganlah jadi penasihat. Bila hanya narasumber oke saja, dari China, Amerika atau negara mana juga tidak jadi masalah, ” tegasnya.

Meutya mencontohkan masalah atas kecemasan DPR dalam pengambilan kebijakan di bidang e-commerce. Umpamanya, dalam kebijakan yang dinilai tidak pro Over The Top (OTT), bukannya memperkuat e-commerce lokal tetapi jadi memprioritaskan kebutuhan usaha asing.

” Kita juga menginginkan bidang e-commerce Indonesia berkembang. Tapi pemainnya lokal, tidak cuma jumlah e-commerce-nya banyak, tapi nyatanya semakin banyak yang asing. Semakin lebih baik, jumlahnya banyak serta pemainnya anak bangsa sendiri, ” tutup Meutya.

Hal seirama juga disibakkan Syarief Hasan, anggota Komisi I DPR asal fraksi Demokrat. Ia mengkritik tawaran pemerintah pada Jack Ma seakan mendegradasi potensi sendiri.

” Dengan diangkatnya Jack Ma jadi penasihat di Kominfo maupun Kementerian Perekonomian, selalu jelas saja ini mendegradasi kwalitas bangsa serta rakyat Indonesia, ” katanya waktu mengemukakan anjuran dalam rapat dengan Kominfo di Gedung Nusantara II.

Ia menyebutkan, sesungguhnya Indonesia sendiri mempunyai banyak pakar-pakar ekonomi, baik di bagian ekonomi global ataupun tehnologi digital.

” Ketidaksamaannya yaitu peluang yang mereka punyai untuk berkembang didalam implementasi ekonomi itu tidak sebesar yang mereka dapatkan dengan ekonom-ekonom di negara beda, ” terang Syarief.

Alibaba Akan Segera Membuka Fasilitas Logistik Di Malaysia 

Alibaba menginformasikan juga akan buka sarana logistik di Malaysia. Sarana ini juga akan berperan jadi pusat distribusi perusahaan di level regional.

Mengutip laporan Reuters, Rabu (22/3/2017), Alibaba menyebutkan, ” Sarana ini juga akan berperan jadi bea cukai, pergudangan, serta sarana pemenuhan terpusat untuk Malaysia serta lokasi yang lain, manfaat memberi izin lebih cepat untuk import serta export. “

Selanjutnya disibakkan kalau sarana ini juga akan jadi sisi dari zone perdagangan bebas digital, yang juga akan diperkembang berdekatan dengan Bandara Internasional Kuala Lumpur.

Pada Sabtu minggu lantas, mengutip beragam sumber, Reuters sudah memberikan laporan Alibaba merencanakan membangun pusat distribusi regional di Malaysia untuk penuhi usaha yang berkembang cepat di lokasi ini.

Juga diberitakan terlebih dulu, Alibaba resmi beli saham Lazada sejumlah US$ 1 miliar pada April 2016.

Nilai itu termasuk juga US$ 500 juta lewat penerbitan saham baru oleh Lazada serta dari pemegang saham terlebih dulu.

Akuisisi ini juga akan jadi modal kuat untuk Alibaba untuk masuk ke pasar Asia Tenggara. Pasalnya, Lazada ada di sebagian negara yaitu diantaranya Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, serta Vietnam.