Cerita Unik Masjid Baiturrahim Ulee Lheue Aceh

Kubah masjid – TSUNAMI yang terjadi di Aceh pada 26 Desember 2004 yang lalu adalah momen bersejarah sangat kelam selama abad 20. Musibah dahsyat itu sudah menewaskan lebih dari 160.000 jiwa. Semua masyarakat Aceh belumlah dapat melupakan momen besar ini.

Banyak cerita nyata yang terselip bahkan juga tidak dapat di terima oleh nalar. Satu dari banyaknya cerita nyata itu ialah Masjid Baiturrahim. Keganasan tsunami tidak dapat meluluhlantakkan Masjid yang terdapat persis di bibir pantai Ulee Lheue itu.

Berdiri kuat di sisa amukan tsunami, Masjid Baiturrahim, Ulee Lheu, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, menaruh riwayat panjang yang unik serta heroik.

Cerita Unik Masjid Baiturrahim Ulee Lheue Aceh

kubah masjid

Azan barusan bergema, tanda-tanda sholat segera diawali di Masjid Baiturrahim. Masyarakat bersama-sama masuk Rumah Allah untuk salat berjamaah. Selesai sholat, beberapa masyarakat meneruskan dengan beri’tikaf. Demikianlah kegiatan Masjid ini sehari-hari.

“Sholat lima waktu dengan berjamaah tetap kami gelar dan dilaksanakan di sini. Bahkan juga di hari berlangsungnya tsunami (26 Desember 2004), kami pun mengadakan salat Zuhur berjamaah di sini,” papar Subhan (31), pengurus Masjid Baiturrahim.

Masjid Baiturrahim jadi saksi bisu keajaiban tsunami Aceh pada masa yang lalu. Waktu ombak raksasa menghumbalang, masjid yang cuma terpaut beberapa meter dari laut itu, masih tegak berdiri di Ulee Lheu. Sesaat bangunan di sekitarnya rata dengan tanah.

Ulee Lheu adalah salah satunya lokasi padat di Banda Aceh, dengan jumlahnya masyarakat sampai 6.000 jiwa. Waktu tsunami menerjang, lebih dari separuh penduduknya jadi korban. Empat dusun juga raib usai gelombang surut.

baca juga : kubah masjid

“Hari itu saya lihat Ulee Lheu pada yakin serta tidak. Seperti dalam mimpi. Semua rata dengan tanah, hanya satu bangunan selamat cuma masjid ini,” kenang Subhan.

Banyak masyarakat menyelamatkan diri dengan menyesaki lantai satu serta dua masjid saat tsunami melanda. Maut mengintai, mereka satu-persatu diseret arus ke luar serta hilang ditelan pekatnya air bah. Cuma sembilan orang yang berhasil naik ke atap selamat.

Menurut korban selamat, ada tiga gelombang tsunami menerjang Masjid baiturrahim pascagempa berkekuatan 9 skala richter itu. Tiap-tiap gelombang tetap pecah waktu menerpa masjid, lalu bergulung-gulung melumat bangunan-bangunan yang ada di sekitarnya. Tinggi gelombang sampai atap masjid atau lebih dari 10 meter.

“Kondisi air dalam masjid waktu itu demikian tenang, orang dapat berenang pada tiang ini ke tiang itu, sesaat di luar bergulung-gulung begitu ganas,” tutur Subhan.

Saat gelombang surut, cerita dia, masjid bersih dari jenazah manusia. Terkecuali cuma jasad seseorang wanita tua yang diketemukan di sudut bangunan. Alquran berantakan di lantai dalam keadaan terbuka serta utuh di masjid, tidak ada yang dibawa arus.

Sesaat beberapa bangunan masjid, samping serta belakang, rusak sekira 20 %. Walau bagunannya tiada rangka besi atau tulang penyangga, masjid ini masih berdiri utuh di dalam “ladang pembantaian”. Beberapa orang memandang, Allah sudah menunjukkan kuasanya di Masjid Baiturrahim. Subhanallah… ( Kubah masjid )