Buku Sastra Yang Seharusnya Membangun Karakter Anak

KAMPANYE BACA TULIS

originals.id – Di masa kecil, Dessy Sekar Chamdi yang dipanggil Sekar mengalami sulitnya memiliki buku karena keterbatasan ekonomi keluarga dan letak perpustakaan yang jauh dari rumahnya. “Ingatan ini yang mengobarkan semangat saya untuk tak henti berbagi kesenangan membaca,” ceritanya. Pada periode 2001-2003, Sekar ikut menggalang sumbangan buku untuk taman bacaan. Muncullah dari situ gagasan untuk mendirikan komunitas Forum Indonesia Membaca (FIM).

Komunitas ini tak hanya fokus pada memperluas akses terhadap bahan bacaan tapi juga mengampanyekan budaya baca dan tulis. Pada 2003-2005 para relawan FIM kemudian berkembang menjadi Yayasan Literasi Indonesia (YLI) dan menyelenggarakan berbagai kegiatan. Seperti Jakarta Book Fair, Indonesia Book Fair, library@senayan, Festival Literasi Indonesia di Yogyakarta, Book on the Street dalam rangka Hari Bebas Kendaraan Bermotor, Book Goes To School, dan sebagainya. Tak hanya mengembangkan jejaring dengan berbagai lembaga-lembaga di dalam negeri, komunitas ini juga menjalin kerja sama dengan lembaga internasional, seperti British Council Indonesia, Kedutaan Besar Kanada dan GoetheInstitut Indonesia.

SATU RUMAH SATU PERPUSTAKAAN

Sekar sering kali ditanya bagaimana agar anak gemar membaca. “Orangtuanya dulu harus suka membaca. Orangtua perlu memberi contoh karena anak adalah peniru yang luar biasa. Bagaimana anak suka membaca kalau tak pernah melihat orangtuanya membaca malah menonton teve. Jadi ciptakan lingkungan yang mendukung minat baca. Sediakan mainan berbentuk buku misal buku bantal berbahan kain untuk bayi. Biasakan membacakan cerita minimal 15 menit setiap hari. Alangkah baiknya kebiasaan ini dimulai sejak dalam kandungan.

Sediakan satu area dalam rumah sebagai sudut baca atau perpustakaan yang nyaman untuk ruang aktivitas bersama keluarga. Ibaratnya, satu rumah, satu perpustakaan. Percayalah, rutinitas membaca bersama akan menyebabkan anak mengaitkan kegiatan membaca dengan kehangatan kasih sayang orangtua.” Hal penting lain, perkembangan teknologi bukanlah musuh bagi kegiatan membaca. “Hanya format dan seninya saja yang berbeda.

Jika ada kebutuhan informasi dengan cepat ya… memang harus memanfaatkan teknologi. Misal, saat berada di luar kota, tak mungkin membawa semua koleksi buku alam perjalanan. Keberadaan e-book akan sangat membantu. Namun tak ada yang dapat menggantikan kesenangan membuka-buka dan menelusuri lembar demi lembar halaman buku.”